Januari 1, 2009 oleh azki
Tempo hari saya berulang tahun. Bertepatan dengan pergantian tahun. Momen yang sangat tepat untuk merenung. Tapi tidak banyak yang saya lakukan tadi malam. Iya iya saya ngaku, saya kabur dan memilih menyendiri. Mencoba lupa akan sebentuk senyum, renyah tawa, dan indomie rebus yang pernah dibuatnya. Mencoba menghindar dari pertemuan yang beberapa tahun terakhir selalu saya nanti-nantikan. Karena tahun ini harus berbeda. Dan warna-warni langit Bandung yang saya lihat tadi malam dari atas genteng bersama teman satu kos, adalah yang paling indah yang pernah saya lihat. Tak perlu menembus keramaian, kemacetan, dan hingar bingar kendaraan.
Hebat! Tak disangka sudah dua puluh sekian kali saya mengitari matahari! Tapi saya masih saja malu jika ditanya apa yang sudah saya raih dan berikan untuk orang-orang disekitar saya. Penghasilan belum punya, kuliah belum lulus, bermanfaat untuk sesama entah apa, naik haji apalagi. Hmm jadi malu.
Hadirnya tahun baru membuat saya semakin sering mendengar kata resolusi. Awalnya, hampir setiap hari saya menghadapi resolusi 1280×800 pixels. Laptop BYON. Atau sering kali saya gembar-gemborkan di kelas web desain bahwa monitor yang kami gunakan memiliki resolusi 1024×768 pixels. Tapi kali ini berbeda. Saya menemukan resolusi di blog, notes dan status facebook.
Mereka menyebutnya resolusi, saya meyebutnya janji. Buat saya, menulis resolusi sama halnya mengatakan ‘aku cinta kamu’. Dan saya membenci keduanya. Saya tidak mau direpotkan dengan kewajiban menepati janji. Cukup dunia nanti melihat apa yang bisa saya raih di 2009 alih-alih apa yang saya resolusikan di 2009. Sama halnya, tidak akan saya katakan ‘aku cinta kamu’, cukup kamu lihat saja bahwa dalam mengagumimu saya tak terkalahkan.
Jadi resolusi 2009? Tidak Perlu!
—-
Ada kerinduan kecil saat menulis ini.
Kemana aja kamu?
Ditulis dalam Tempat Sampah, Tulisan Ringan | Bertanda resolusi | 4 Komentar »
Desember 25, 2008 oleh azki
Bahkan kantuk pun tak mampu mematahkan semangatnya malam itu. Jika proyek ini tembus, maka sebagai freelancer, ia akan mampu hidup santai hingga setengah tahun kedepan. Tetapi dering alarm Nokia 1680-nya tak juga membuatnya bangun lebih awal. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.15 ketika Riki membuka mata pertama kali hari itu. Sementara, kereta ke jakarta akan berangkat pukul 08.45.
Dengan tergesa, segera dimasukkan laptop, baju, dua keping CD kosong, dan sebungkus OREO kedalam tas ranselnya. Sebelum menuruni tangga dari lantai dua kamar kost nya, ia mampir ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.
***
“Parahyangan bisnis satu, mba.”
“Habis, mas.”
“Tiket bediri juga tidak apa deh,mba.”
“Sudah habis juga mas, kecuali untuk yang jam 12 siang nanti.”
Dan jawaban itu membuat lututnya terasa lemas, seolah tak mampu menahan berat badannya. Ia sudah merencanakan sampai di Gambir dan melanjutkan naik Transjakarta ke Oops Studio di kawasan Senayan. Dan ia harus presentasi jam setengah 2 siang ini. Tapi kehabisan tiket kereta adalah hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Merasa mimpinya hari ini telah kandas, ia memilih duduk di kursi tunggu penumpang. 10 menit berlalu hingga tiba waktu seharusnya kereta Parahyangan berangkat. Tiba-tiba seorang perempuan yang dari tadi duduk disebalah setengah berbisik,
“Aku masih punya satu tiket lagi.”
Riki menengok, tak disadarinya ada perempuan cantik sedari tadi duduk disebelahnnya. Penampilannya rapi. Sederhana namun enak dipandang. Rambutnya hitam dan panjang terurai. Diperkirakan usianya dua atau tiga tahun lebih muda darinya. Sepertinya mahasiswi, pikir Riki.
“Orang yang aku tunggu sepertinya tidak akan datang. Hanya karena aku beli tiket untuk kereta yang berangkat 3 jam lebih awal dari yang dia inginkan. Padahal tempo hari aku beli tiket sampai harus nyasar ke Tegal Lega.”
Ada harapan baru bagi Riki.
“Boleh aku beli tiket kamu?” Tanya Riki sambil menyodorkan uang tiga puluh ribu.
“Tapi aku mau menjualnya dengan harga seratus ribu.”
Riki hanya terdiam. Dasar opurtunis! Umpatnya dalam hati.
“Aku bercanda. Ayo kita berangkat!” lanjut perempuan itu sambil mengambil uang tiga puluh ribu dari tangan Riki.
“Lima ribunya buat ongkos aku nyasar kemaren ya!”
Riki hanya tersenyum dan mengangguk. Lanjut Baca »
Ditulis dalam Tempat Sampah, Tulisan Ringan | Bertanda Fiksi, OREO | 6 Komentar »
Desember 24, 2008 oleh azki
Pagi ini,saya memutuskan.
Menghancurkan ratusan camera pengintai dan microphone penyadap.
Memberhentikan puluhan agen rahasia.
Memecat belasan hacker.
Mengakhiri kerjasama intelejen dengan operator telepon seluler.
Saya hendak berhenti sebagai anak dukun.
Mission canceled!
—
“Nobody can go back and start a new beginning, but anyone can start today and make a new ending.”
[Maria Robinson]
Ditulis dalam Tempat Sampah, Tulisan Ringan | Bertanda Dukun | 1 Komentar »
Desember 13, 2008 oleh azki
Ketahuilah kalian semua.. 10 hal dibawah ini adalah TIDAK benar adanya..
#1 Saya Bodoh dan Bebal
“Kalau aku pinter, aku udah melupakan kamu dan jadian sama Dian Sastro. Atau apes-apesnya sama Luna maya!”
Tentu saja tidak!!
Saya? Seorang saya, kamu bilang bodoh? Mahasiswa dengan IP tiga koma alhamdulillah kamu bilang bodoh? Bukan. Itu bukan IP tiga semester yang dijumlahkan!
Kamu salah besar!
Tidak pula bebal. Pantang menyerah lebih tepatnya.
#2 Saya Suka Mengejek
Sebenarnya saya lebih suka berkata “Kamu cantik hari ini..”, dan pujian terbuka lainnya. Ya, saya lebih suka memuji daripada mengejek. Tapi.. Lanjut Baca »
Ditulis dalam Tulisan Ringan | Bertanda About me | 4 Komentar »
Desember 4, 2008 oleh azki
Komputer itu she. Flashdisk gue she juga ternyata.
Baru saja dapat musibah. Bayangakan ketika tidak ada materi apa-apa ditangan tapi kelas harus tetap berjalan. Lalu 2 jam mau ngapain coba? Cerita yang serem-serem. Ngegosipin artis. Ah, main kartu atau karambol lebih seru sebenernya. Tapi sayang tidak ada kartu remi atau papan karambol.
Tempo hari diminta ngisi 2 sesi kelas Professional Web Programmer (PWP) untuk materi web design, yaitu membuat template web dengan Photoshop dan Dreamweaver. Kuliah astro baru kelar jam 4, padahal kelas PWP jam 7 malem. Alhasil beres astro langsung balik bikin slide dan menyiapkan segala sesuatunya, bahan-bahan latihan dan tetek bengeknya (eh, teteknya siapa yang bengek ya..?). Berangkat ke ComLabs pun penuh perjuangan melawan hujan. Lanjut Baca »
Ditulis dalam Tulisan Ringan | Bertanda She | 2 Komentar »
November 30, 2008 oleh azki
Jangan berisik. saya sedang mengintip.
Lihat itu, sepasang kekasih yang pernah saling mencitai tengah bertengkar hebat.
Kata-kata yang tidak sepantasnya terucap mengalir dengan ringan.
Ah, saya jadi malu mendengarnya.
Sesekali sang perempuan memelas.
Ah, jadi tidak tega melihatnya.
Heran. Tak habis pikir.
Mengapa hal sepele seperti itu dipertengkarkan?
Selalu saja yang dipermasalahkan hanyalah siapa yang lebih mencintai siapa.
Padahal, seperti kata Andi Eriawan,
Cinta itu bukan milik Arjuna atau Cleopatra.
Cinta itu milik kakek nenek kita.
Saat tubuh mulai renta dan rambut mulai memutih, baru lah cinta lulus teruji.
Sudah ah. Lebih baik saya beralih ke lubang kunci lain saja. Lanjut Baca »
Ditulis dalam Tulisan Ringan | Bertanda Blogwalking, Ngintip | 2 Komentar »