Bisa dibilang setiap orang pasti punya rasa takut. Setidaknya takut kepada Tuhan. Atau malah takut hantu? Kalau menurut dosen saya yang bijak yang juga seorang blogger, sebenarnya yang membuat kita takut hantu adalah karena kita takut mati.
Sekarang kita coba tinjau dari segi biologis. Sebenarnya rasa takut dipicu pula oleh denyut jantung yang makin kencang akibat maningkatnya jumlah hormon…apa itu ya namanya…saya lupa, yang dihasilkan oleh kelenjar…saya lupa juga. Tepatnya tidak tau mungkin.
Konon, didunia ini sebenarnya tidak pernah ada kejahatan, yang ada hanyalah ketakutan. Takut miskin. Takut dapur tidak mengepul. Takut ketahuan selingkuh. Takut dendam tidak terbalas saat ajal menjemput. Takut dibilang suami tidak becus cari duit kalau tidak korupsi.
Ian Seymour dalam bukunya Maximaze Your Potential menjelaskan bahwa ketakutan adalah rintangan yang mencoba mengecilkan hati kita dan merintangi jalan menuju sukses. Tapi ketakutan juga punya dua sisi. Tergantung respon kita : fight or flight. Hadapi atau lari. Tipikal orang sukses tidak akan membiarkan ketakutan mengendalikan dirinya, ia tidak akan menunda dan menghindar untuk mengambil keputusan tentang tindakan macam apa yang harus diambil.
Ingat waktu pertama masuk sekolah? Ingat saat pertama wawancara kerja? Ingat saat pertama kali mengajak pasangan ngedate? Apakan ada ketakutan menyelinap disana? Ian ngasih tipsnya dengan mengutip kata-kata Ralph Waldo Emerson, “Lakukan apa yang kamu takut untuk melakukannya, maka kematian rasa takut itu adalah pasti.” Itulah kebenaran yang sederhana. Om ian juga berpesan, “Jika Anda melakukan sesuatu yang Anda takut untuk melakukannya, Anda mendapat kesempatan yang jauh lebih baik daripada tidak melakukan apapun.”
Setahun lalu waktu ada ospek jurusan, ada sebuah simulasi mengatasi ketakutan: walk on fire. Ya berjalan di atas api. Awalnya ngeri juga, tapi setelah sekali mencoba dan tidak sengeri yang dibayangkan malah menjadi ketagihan. Bahkan hampir semua peserta melakukannya lebih dari satu kali.
Tapi kadang ketakutan bisa menjadi faktor pengali kekuatan yang sangat hebat lho… Buktinya, teman saya yang kecerdasaanya biasa-biasa saja justru memiliki prestasi akademik yang luar biasa karena dia takut beasiswanya dicabut jika prestasi akademiknya jelek. Sampai-sampai IP dia jauh jauh diatas saya yang notabene punya tingkat intelegensi diatas rata-rata!
Kalau boleh tau, apa ketakutan terbesar Anda saat ini?
NB: foto adalah malam sebelum pelantikan KMPN 2006 di Cikole, Lembang.
Juni 2007.




