Dinda sayang,
Sudah lima bulan sejak ulang tahunku ke 21. Lima bulan sejak kamu bilang “Tong, maaf aku gak bisa deket kayak dulu, kayak kemarin-kemarin, kayak tadi.. ”. Lima bulan sudah aku memaksa diri untuk mengerti. Tapi hingga detik ini aku belum juga bisa mengerti. Atau tidak mau mengerti.
Dan rindu itu masih saja menyesakkan dada.
Kamu ingat satu setengah tahun lalu saat kamu ke Bandung? Aku ingat senyum kamu saat kita berpisah di bus sebelum kamu pulang. Aku tahu kamu bahagia hari itu. Aku juga sangat bahagia hari itu, Dinda. Atau aku salah? Kamu ingat saat itu kamu mengirim sms dan mengatakan akan datang lagi ke Bandung untuk melajutkan petualang kita?
Dinda sayang,
Kamu ingat bunga mawar merah kecil yang belum mekar yang aku kasih dulu? Aku mencurinya dari deretan bunga diteras milik mamaku. Kamu ingat waktu ulang tahunku ke 16? Aku ingat senyum dan ekspresi wajah kamu saat datang ke rumahku dengan kue kecil dan lilin itu. Kamu ingat saat kamu ulang tahun dulu, aku membungkus kado ulang tahun tidak dengan kertas kado, tapi dengan alunium foil yang kusut? Memang tampak aneh, tapi aku harap kamu suka kreatifitas bodoh ku itu. Karena justru begitu lah kalo ulang tahun dari aku tampak beda.
Dinda sayang,
Kamu ingat dulu kita sering mengabiskan sore di pantai? Aku ingat kamu pernah mengatakan “Aku ingin punya waktu lebih lama bareng Otong”. Dan kecupan itu begitu hangat. Kamu ingat kita dulu pernah ke Semarang berdua? Aku ingat hari itu pertama kalinya kita duduk berdua naik becak. Becak Semarang yang khas, dengan hembusan angin sore yang menerpa.
Dinda sayang,
Kamu ingat sepulang sekolah dulu kamu pernah manangis tidak mau pulang ke rumah? Aku bingung harus bagaimana saat itu, Dinda. Kamu ingat dulu pernah minta pesawat untuk keliling dunia? Sekarang aku masuk Teknik Penerbangan, Dinda. Aku belajar bagaimana mendesain pesawat, membuatnya, dan mengoperasikannya. Kamu ingat bahwa dulu kita adalah pasangan siswa berprestasi kota kita? Kita meraihnya berdua, Dinda. Semua orang iri melihat kita.
Dinda sayang,
Tak akan habis kisah kita untuk aku ceritakan kepada anak cucuku nanti. Dan seperti apa akhir kisah kita, kamu lah yang akan menentukannya.
Aku minta maaf jika masih saja bertanya kenapa semua harus berubah. Aku minta maaf jika masih saja belum mau mengerti. Tapi aku janji, mulai detik ini aku tidak akan bertanya lagi dan mencoba mengerti, atau setidaknya berpura-pura mengerti.
Ingat novel Always, Laila yang kita suka?
Ia pernah jatuh cinta dan kemudian terluka. Sampai saat ini ia masih mencitai Laila dan belum dapat melupakannya. Bila perempuan itu memang satu-satunya perempuan yang bisa ia cintai di antara milyaran lain, ia akan terus mencintainya. Dan bila ia harus jatuh cinta lagi, maka ia akan jatuh cinta lagi… Secara alami dan tanpa rencana. Bahkan, berkali-kali bila itu memang bisa terjadi. Toh, ia adalah seorang lelaki yang masih muda. Perjalanan hidupnya masih panjang dan terhampar dihadapannya.
Aku bukan seorang Phrameswara, Dinda. Aku tidak sesempurna dia dalam meyukaimu. Tapi kamu adalah Laila ku. Dan aku masih menunggu kamu kembali.
Semoga kamu selalu bahagia,
~ Otong ~




aku mengerti…sangat mengerti
azkqi….
tulisan lo ini yang pertama kali aq baca di blog azq…
dan…sumpah….!!!!sampai detik ini aq tulis comment buat azq…udah berapa kali ya aq baca???mungkin 6 kali…
gak bosan…jangan ge-er lo ya???!!!hahahah…
karna aq tmn azq, sesuai yang azq mnta…
sampai saat inipun aq masi doain azq bisa balik lagi sama laila azq…hihihi…
smaaaaaaaaaaaangadh kawan…!!!!!