Yani berdiri dengan raut gelisah didapan rumahnya. Pandangannya terus tertuju ke ujung jalan. Pukul satu siang, waktu dimana bel masuk untuk kelas siang sudah seharusnya berdering. Namun, Yani masih di rumah dan yang dinantinya belum juga datang.
Dan ini berlangsung setiap hari. Ayah Yani, seorang pensiunan pejuang, hanya memiliki satu sepeda. Sepeda itu dipakai bergantian oleh Yani dan kakanya Redi. Yani masuk siang dan Redi masuk Pagi.
Itu hanya penggalan kisah masa remajanya. Kini diusianya yang memasuki tahun ke 46, tak ada kesibukan yang berlebihan. Waktunya dihabiskan untuk mengurus rumah, memasak, mencoba resep baru, menanti suaminya pulang, dan menemani Ayu, putri bungsunya, tumbuh.
Tak ada yang istimewa dari latar belakang pendidikan dan karirnya. Ia hanya lulusan SMK yang tak pernah mengenyam bangku kuliah. Sempat menjadi receptionist di sebuah hotel. Tapi, kompetensinya sebagai Ibu sungguh luar biasa. Memasak sendiri untuk keluarga, menjahit sendiri baju untuk Ayu dengan model-model yang unik, mencukur rambut anak sulungnya, dan berbagai ketrampilan lainnya.
Kamu hebat! Selamat ulang tahun mama.




Buat Azki, Kamu juga Hebat, Anak yg tahu tentang Kasih Ibunda