“Sudah saatnya kamu mebuka hati, ki. Kamu gak boleh kayak gini terus.”
“Maksud kamu, lebih baik aku jadi homo?”
Sudah kesekian kalinya aku coba mengingatkan Riki. Kesekian kalinya pula dia menaggapinya dengan tidak serius.
Mengenal Dinda dan mengijinkannya menjadi orang pertama yang mengisi hati dan mewarnai kehidupannya adalah kesalahan terbesar Riki dalam hidupnya. Tentu saja, Dinda terlalu sempurna dan istimewa untuk dapat tergantikan oleh perempuan manapun.
Kini sepertinya Riki masih menikmati masa menunggu, satu hal yang dibenci banyak orang itu. Kapan yang ia tunggu akan datang, Riki tak pernah tahu. Atau pun tak akan pernah datang, Riki juga tak tahu.
Dasar Riki gila!!




eMg riki gila……….
sMga ajah,,, cRita nya gak berlanjut di RSJ yach… ammmiieeennnn,
setuju riki gila….
masukin ja k rsj !!!jngan suruh kul d itb…
bau !!!!!!!
newbie itu sebenernya sapa c????
azki…lo taw ga???
yang gila riki dalam cerita lo kan???
coz…gw ga gila…!!!!
[...] sedang gelisah menunggu hujan. Sampai-sampai air dalam gelas ditumpahkannya semua. Ah, jadi ingat sesuatu. Semoga yang ditunggu lekas datang. Percaya lah, menunggu itu bagian dari [...]