Bahkan kantuk pun tak mampu mematahkan semangatnya malam itu. Jika proyek ini tembus, maka sebagai freelancer, ia akan mampu hidup santai hingga setengah tahun kedepan. Tetapi dering alarm Nokia 1680-nya tak juga membuatnya bangun lebih awal. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.15 ketika Riki membuka mata pertama kali hari itu. Sementara, kereta ke jakarta akan berangkat pukul 08.45.
Dengan tergesa, segera dimasukkan laptop, baju, dua keping CD kosong, dan sebungkus OREO kedalam tas ranselnya. Sebelum menuruni tangga dari lantai dua kamar kost nya, ia mampir ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.
***
“Parahyangan bisnis satu, mba.”
“Habis, mas.”
“Tiket bediri juga tidak apa deh,mba.”
“Sudah habis juga mas, kecuali untuk yang jam 12 siang nanti.”
Dan jawaban itu membuat lututnya terasa lemas, seolah tak mampu menahan berat badannya. Ia sudah merencanakan sampai di Gambir dan melanjutkan naik Transjakarta ke Oops Studio di kawasan Senayan. Dan ia harus presentasi jam setengah 2 siang ini. Tapi kehabisan tiket kereta adalah hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Merasa mimpinya hari ini telah kandas, ia memilih duduk di kursi tunggu penumpang. 10 menit berlalu hingga tiba waktu seharusnya kereta Parahyangan berangkat. Tiba-tiba seorang perempuan yang dari tadi duduk disebalah setengah berbisik,
“Aku masih punya satu tiket lagi.”
Riki menengok, tak disadarinya ada perempuan cantik sedari tadi duduk disebelahnnya. Penampilannya rapi. Sederhana namun enak dipandang. Rambutnya hitam dan panjang terurai. Diperkirakan usianya dua atau tiga tahun lebih muda darinya. Sepertinya mahasiswi, pikir Riki.
“Orang yang aku tunggu sepertinya tidak akan datang. Hanya karena aku beli tiket untuk kereta yang berangkat 3 jam lebih awal dari yang dia inginkan. Padahal tempo hari aku beli tiket sampai harus nyasar ke Tegal Lega.”
Ada harapan baru bagi Riki.
“Boleh aku beli tiket kamu?” Tanya Riki sambil menyodorkan uang tiga puluh ribu.
“Tapi aku mau menjualnya dengan harga seratus ribu.”
Riki hanya terdiam. Dasar opurtunis! Umpatnya dalam hati.
“Aku bercanda. Ayo kita berangkat!” lanjut perempuan itu sambil mengambil uang tiga puluh ribu dari tangan Riki.
“Lima ribunya buat ongkos aku nyasar kemaren ya!”
Riki hanya tersenyum dan mengangguk.
Saat berjalan menuju kereta, sempat diamatinya perempuan itu dari belakang. Dia begitu anggun, pikir Riki. Tingginya mungkin hanya terpaut sekitar lima sentimeter darinya. Dikutuki dirinya sendiri karena tak mampu bangun lebih awal dan menyempatkan untuk mandi. Dan kini, satu kursi dengan perempuan secantik ini, Riki merasa begitu kebanting.
***
“Putri.” Perempuan itu mengajak berkenalan ketika kereta mulai melaju.
“Riki.”
“Ohh. Tapi nama kamu nggak cocok sama muka kamu.”
Dasar karung beras! Umpat Riki lagi dalam hati. Putri memang sedikit gemuk. Riki menaksir lingkar pinggangnya tidak kurang dari 75 sentimeter. Tapi masih cukup wajar untuk tinggi badan yang tidak kurang dari 165 cm.
Berbeda dengan Riki yang lebih banyak diam, Putri berceloteh sepanjang jalan. Ada hal unik yang Riki tangkap dari perempuan ini. Cara dia berceloteh, mimik, gerak tubuh dan sorot matanya berbeda dari orang umumnya. Sungguh menarik.
“Ki, aku lapar.”
“Tapi nggak jual makanan.”
“Iya aku tahu. Bukan itu maksudku Riki..” jawab Putri sedikit kesal.
“Aku bencanda, Putri. Tunggu sebentar, aku bawa OREO.”
Diambilnya sebungkus OREO dari dalam tas dan diberikannya kepada Putri. Dibiarkan perempuan itu membuka bungkusnya sendiri.
Aduh Riki..Apa kamu tidak pernah belajar bagaimana memanjakan wanita?
“Riki, kamu tahu bagaimana kereta bisa memilih jalur yang diinginkan ketika ada percabangan rel? Seperti saat akan masuk stasiun misalnya.”
Pertanyaan itu terasa sangat aneh. Buat apa dia menanyakan hal tidak penting macam itu, pikir Riki. Tapi, sebagai lelaki, tentu ia tidak mau terlihat bodoh didepan Putri. Riki memutar otak. Ah, jawaban salah pun perempuan itu tak akan tahu pikirnya.
“Dengan megerem pada salah satu sisi rodanya. Jika di percabangan rel ia ingin masuk ke cabang sebelah kiri, maka masinis harus mengerem roda sebelah kiri. Karena kecepatan roda sebelah kanan lebih besar, maka kereta memiliki kecenderungan untuk berbelok ke kiri, dan ia akan masuk ke cabang rel sebelah kiri. Sama halnya pesawat flying wing yang menggunakan differential thrust untuk kendali direksional sebagai pengganti tidak adanya vertical tail.”
Perfect answer! pikir Riki.
Putri mengerutkan kening, benfikir beberapa detik, kemudian menimpali.
“Masuk akal sih, tapi flyingwing mana yang pakai differential thrust untuk membangkitkan momen yaw? B2 memang yaw dengan cara yang kamu ceritakan, tapi dia memakai split rudder, bukan differential thrust.”
Dan Riki dibuatnya melongo tak mampu berkata-kata. Riki menyimpulkan perempuan ini pasti mahasiswi Teknik Penerbangan atau Teknik Mesin. Atau mungkin sekolah Pramugari.
“Putri, kamu kuliah jurusan apa?”
“Psikologi.”
Tebakan Riki salah besar!
Putri memang baru dikenalnya. Tapi itu tidak membuat Riki merasa canggung. Mungkin karena memang Putri supel dan celotehnya yang mampu mencairkan suasana.
“Kamu percaya, kalau ada orang baik dan benar-benar tulus, Ki?”
“Nggak.” Jawab Riki secepat kilat.
“Hah?”
“Buktinya kamu baik,ngasih tiket ke aku tapi minta ganti.”
“Ini beda Riki. Jelas aku minta ganti, uang itu kan ongkos ku buat sampai ke rumah!”
“Kalau begitu kamu nggak tulus menolong aku.”
“Tapi ini beda Ki.. Aku merasa setiap orang baik yang aku temui pasti minta pamrih?!”
“Itu sudah hukum alam, Putri.. Semua orang bekerja juga minta digaji.”
“Ah..kamu menyebalkan, Ki.”
Riki memang bukan tipe lelaki yang suka merayu. Bahkan dia lebih memilih beroposisi ketika Putri mencoba curhat. Tapi ia tahu, ada kegalauan dihati perempuan itu.
Hampir tiga jam berlalu dan telah banyak cerita yang mereka bagi.
“Putri, aku ke toilet sebentar.”
Putri mengangguk kecil.
Saat keluar dari toilet, kereta tengah berhenti di Stasiun Jatinegara. Didapatinya Putri tak ada lagi ditempat duduknya.
Hanya ada sebuah pesan singkat,
Makasih OREO-nya.
Putri.
Ada kekecewaan kecil. Tapi perpisahan itu memang harus menemui waktunya.




nice ceritanya ka azki!
hope si riki ketemu lagi dengan si putri!
mungkin ketemunya di toko lagi bedua mau beli oreo kayak di iklan eskrim ntu,heuheuhue
Terus terang menetes air mata mas baca cerita ini. Saat inipun aku kehilangan seseorang….Juga di stasiun.
wow azki emang jago, kecuali dalam hal merayu wanita..
Benul gil…si azki musti belajar lg sm Bady hahaha:D
cerita sebagus ini kok dijudulin karung beras…
kirain tadi pas baca isinya penghinaan terhadap orang lain, hi hi…
cerita cerdas, tapi mahasiswi psikologi kok bisa njelasin flyingwing ya?